CIREBON, 1 November 2026 – Guru Bahasa Arab dari sejumlah madrasah dan komunitas profesi guru di Kota Cirebon mengungkapkan tiga tantangan utama dalam pembelajaran Bahasa Arab melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Balai Latihan Kerja (BLK) Madinatunnajah, Kota Cirebon, ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Penguatan Kapasitas Guru Bahasa Arab Madrasah melalui Pedagogi Mahabbah Kurikulum Berbasis Cinta.”

Sebanyak 12 guru Bahasa Arab mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 9 guru dari Madinatunnajah, masing-masing 1 guru dari MTs Salafiyah dan MTsN 2 Kota Cirebon, serta 1 perwakilan dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Arab Cirebon. Keterlibatan peserta dari berbagai madrasah dan komunitas profesi guru ini memperluas ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkaya perspektif dalam mengidentifikasi persoalan pembelajaran Bahasa Arab. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Jurusan PBA FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Nanin Sumiarni, S.Pd.I., M.Ag. Diskusi dipandu oleh Hasan Saefuloh, M.Ag., selaku ketua tim PkM sekaligus narasumber.
Kegiatan ini bertujuan menggali pemahaman guru tentang Pedagogi Mahabbah dan Kurikulum Berbasis Cinta, mengidentifikasi pengalaman serta tantangan pembelajaran Bahasa Arab di madrasah, dan memetakan kebutuhan penguatan kapasitas guru dalam aspek pedagogis, metodologis, psikologis, dan spiritual. FGD juga diarahkan untuk merumuskan model dan strategi pembelajaran Bahasa Arab yang humanis, menyenangkan, inklusif, dan bermakna sesuai karakteristik peserta didik di jenjang MI, MTs, dan MA.
Tiga Tantangan Utama Pembelajaran Bahasa Arab
Berdasarkan pengalaman dan praktik yang disampaikan para peserta, diskusi mengidentifikasi tiga persoalan utama dalam pembelajaran Bahasa Arab di madrasah.
Pertama, perbedaan kemampuan awal dan latar belakang peserta didik. Pada jenjang MTs, peserta didik yang berasal dari MI umumnya memiliki pengalaman belajar Bahasa Arab yang berbeda dengan peserta didik yang berasal dari SD. Perbedaan juga ditemukan pada jenjang MA, khususnya antara peserta didik yang tinggal di pondok pesantren dan mereka yang tidak tinggal di lingkungan pesantren. Kondisi tersebut menuntut guru untuk mampu mengenali karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik serta menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai.

Kedua, kesulitan peserta didik dalam mengingat dan mempertahankan penguasaan kosakata (mufradat). Guru mengungkapkan bahwa kosakata yang diperkenalkan secara lisan cenderung lebih mudah dilupakan dibandingkan kosakata yang disertai bentuk tulisan. Temuan ini menunjukkan perlunya strategi pembelajaran mufradat yang lebih bervariasi, berulang, kontekstual, dan melibatkan aktivitas peserta didik secara aktif.
Adapun persoalan ketiga adalah keberanian siswa dalam berbicara menggunakan Bahasa Arab. Sebagian peserta didik masih merasa takut melakukan kesalahan, malu, atau kurang percaya diri ketika diminta berbicara. Situasi tersebut menjadi perhatian penting karena pembelajaran keterampilan berbicara membutuhkan lingkungan yang aman, mendukung, dan tidak mempermalukan peserta didik ketika melakukan kekeliruan.
Persoalan tersebut menjadi perhatian penting karena pembelajaran Bahasa Arab tidak cukup hanya mengembangkan penguasaan kosakata dan kaidah bahasa, tetapi juga perlu membangun rasa percaya diri, keberanian, serta lingkungan belajar yang mendukung siswa untuk mencoba tanpa takut disalahkan.
Menguatkan Pembelajaran yang Humanis dan Berbasis Cinta
Selain mengidentifikasi tantangan, FGD juga menjadi ruang berbagi praktik baik yang telah dilakukan guru di madrasah. Beberapa praktik yang muncul antara lain pembelajaran kelompok, pemberian pendampingan tambahan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan, serta penyelenggaraan perlombaan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih.
Guru juga berbagi pengalaman tentang pentingnya membangun kedekatan dengan peserta didik melalui pendekatan yang menyerupai peran orang tua, yaitu memberikan perhatian, pendampingan, dan motivasi. Bahkan, di salah satu madrasah telah dibiasakan peserta didik menyapa guru menggunakan Bahasa Arab di luar kelas. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu upaya membangun lingkungan berbahasa yang mendukung pembelajaran.
Dalam diskusi, Hasan Saefuloh, M.Ag. mengarahkan peserta untuk melihat pembelajaran Bahasa Arab bukan semata-mata sebagai proses penyampaian materi dan pencapaian hasil akademik. Pembelajaran juga perlu memperhatikan karakteristik, kebutuhan, kondisi psikologis, serta perkembangan peserta didik.
Sejalan dengan materi FGD, penguatan kompetensi guru juga dibahas dari sisi penerapan nilai-nilai cinta dalam tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi pembelajaran. Guru didorong untuk mengembangkan pembelajaran keterampilan Bahasa Arab, meliputi mufradat, istima’, kalam, qira’ah, dan kitabah, melalui metode komunikatif, media digital dan visual, permainan edukatif, proyek kreatif, serta aktivitas kolaboratif.
Pembahasan juga menekankan pentingnya evaluasi yang tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi turut menghargai proses, usaha, dan perkembangan peserta didik. Nilai spiritual, sosial, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan dapat diintegrasikan dalam materi dan aktivitas pembelajaran secara kontekstual sesuai usia, kebutuhan, minat, dan potensi peserta didik.
Melalui Pedagogi Mahabbah, guru diharapkan mampu membangun suasana belajar yang menumbuhkan kecintaan terhadap Bahasa Arab, memberikan ruang bagi peserta didik untuk mencoba, serta menjadikan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk memberikan hukuman atau mempermalukan mereka.
Melalui pendekatan diskusi partisipatif, tim pengabdi berupaya memastikan bahwa materi yang diberikan pada pertemuan berikutnya benar-benar menjawab kebutuhan guru. Dengan demikian, program ini tidak hanya berorientasi pada penyampaian teori, tetapi juga penguatan praktik pembelajaran yang dapat diterapkan secara langsung di kelas.
Hasil FGD Menjadi Dasar Penyusunan Workshop
Hasil FGD menjadi dasar penyusunan kegiatan lanjutan dalam program PkM. Tim merancang empat tahapan kegiatan untuk memperkuat kapasitas dan kompetensi guru Bahasa Arab.
Tahap pertama adalah Workshop I pada 14 November 2026, yang akan membahas konsep Pedagogi Mahabbah dan Kurikulum Berbasis Cinta, strategi merespons kesalahan peserta didik tanpa mempermalukan, penguatan pembelajaran mufradat yang bermakna, serta penyusunan modul atau perangkat pembelajaran.
Tahap kedua, Workshop II pada 21 November 2026, difokuskan pada strategi pembelajaran bagi peserta didik dengan kemampuan beragam serta pengembangan asesmen yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menghargai proses dan perkembangan belajar.
Tahap ketiga adalah pendampingan praktik pembelajaran di kelas pada 28 November 2026. Pada tahap ini, guru akan memperoleh pendampingan dalam menerapkan strategi pembelajaran yang telah dikembangkan melalui kegiatan workshop.
Tahap keempat, gelar praktik baik, refleksi, dan penutupan pada 12 Desember 2026, menjadi ruang untuk berbagi pengalaman implementasi, mengevaluasi proses kegiatan, serta merumuskan keberlanjutan penerapan Pedagogi Mahabbah dalam pembelajaran Bahasa Arab di madrasah.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Jurusan PBA FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap terbangun penguatan kompetensi guru yang tidak hanya mencakup aspek pedagogis dan metodologis, tetapi juga aspek psikologis dan spiritual. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Arab di madrasah diharapkan semakin ramah terhadap keberagaman kemampuan peserta didik, mendorong keberanian berkomunikasi, serta menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan proses belajar.