Tepat Waktu dan Tepat
Tugas akhir sering terasa seperti tembok terakhir sebelum wisuda. Tulisan ini memaknai kata tepat dalam dua arti sekaligus, yaitu selesai tepat waktu dan dikerjakan dengan cara yang tepat, jujur, serta sesuai kaidah ilmiah. Keduanya saling terkait, sebab tugas akhir yang dikebut tanpa arah mudah tergelincir pada jalan pintas, sedangkan tugas akhir yang terlalu lama diperam sering kehilangan semangat penulisnya.
Tugas akhir tidak selalu berupa skripsi
Bentuk tugas akhir sarjana kini lebih beragam daripada anggapan banyak mahasiswa. Aturan nasional yang berlaku saat ini adalah Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, yang mencabut aturan serupa tahun 2023. Pasal 18 ayat (9) huruf a aturan itu menyatakan bahwa tugas akhir program sarjana dapat berbentuk skripsi, prototipe, proyek, atau bentuk lain yang sejenis, dan dapat dikerjakan secara individu maupun berkelompok (Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, 2025). Aturan nasional itu memberi ruang, sedangkan rincian pilihannya ditentukan oleh prodi. Di Prodi PBA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, kesepakatan para dosen menetapkan dua pengganti skripsi, yaitu publikasi artikel di jurnal dan penerjemahan buku berbahasa Arab ke bahasa Indonesia (Aziz, t.t.). Jurusan juga menyepakati bahwa skripsi tidak memakai metode eksperimen dan kualitatif deskriptif, lalu menawarkan pilihan lain seperti korelasi, regresi, penelitian dan pengembangan, fenomenologi, studi kasus, etnografi, metode campuran, evaluasi, dan analisis isi (Aziz, t.t.). Dengan demikian, mahasiswa yang berencana memakai desain eksperimen karena terbiasa melihatnya di skripsi lama perlu menyesuaikan rencananya sejak awal.
Alur tugas akhir di PBA UIN SSC
Jalan menuju seminar proposal di PBA UIN SSC terdiri atas lima tahap yang berurutan. Mengetahui urutannya membantu mahasiswa menyusun target antara yang jelas. Tahap pertama adalah berdiskusi tentang wilayah kajian dengan dosen pembimbing akademik sambil membawa KHS atau transkrip dari semester awal hingga terakhir, dengan wilayah kajian yang diturunkan dari profil lulusan prodi. Tahap kedua adalah menyusun Research Model Canvas (RMC) dan menentukan judul bersama dosen mata kuliah metodologi penelitian dan bimbingan skripsi. RMC adalah kanvas yang merangkum rancangan penelitian dalam satu lembar, sehingga hubungan antarbagiannya mudah diperiksa. Menurut materi jurusan, penyusunannya mencakup penentuan topik dari sub wilayah kajian, inventaris gap atau celah penelitian, tujuan dan pertanyaan penelitian, desain penelitian, kebaruan, teori utama, hingga perumusan judul. Tahap ketiga adalah mengajukan RMC beserta lembar persetujuan jurusan, tahap keempat menyusun proposal, dan tahap kelima mengajukan seminar proposal (Aziz, t.t.). Contohnya, mahasiswa yang menargetkan seminar proposal di akhir semester tujuh dapat menetapkan bulan pertama untuk diskusi wilayah kajian dan pencarian literatur, bulan kedua untuk RMC, lalu sisanya untuk proposal. Lima tahap ini bisa langsung dijadikan tenggat antara pribadi.
Mengapa kita menunda
Menunda tugas akhir bukan sekadar soal malas. Steel (2007) menggabungkan 691 korelasi dari banyak penelitian tentang prokrastinasi, yaitu kebiasaan menunda pekerjaan secara sengaja walaupun tahu ada akibat buruknya. Ia menemukan bahwa prediktor yang kuat dan konsisten adalah tugas yang terasa tidak menyenangkan, jarak waktu menuju tenggat, efikasi diri, sifat impulsif, serta sifat teliti dan teratur beserta unsurnya seperti kendali diri dan mudah tidaknya teralihkan. Efikasi diri di sini berarti keyakinan seseorang bahwa ia sanggup menyelesaikan tugas tertentu. Contohnya, mahasiswa yang yakin mampu menulis latar belakang masalah akan lebih cepat membuka laptop daripada mahasiswa yang merasa tidak tahu harus mulai dari mana. Peta ini membantu kita melihat bahwa penundaan punya sebab yang dapat dikenali dan karena itu dapat ditangani.
Penelitian di kampus Indonesia memperlihatkan pola yang sejalan. Pada 99 mahasiswa psikologi di Malang yang sedang menyusun skripsi, efikasi diri berkorelasi negatif dengan prokrastinasi, dengan nilai r sebesar minus 0,367 (Venanda, 2022). Sementara itu, pada 148 mahasiswa Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, kecenderungan perfeksionis berkorelasi positif dengan prokrastinasi, dengan r sebesar 0,413 (Nurmaidah & Fitriani, 2024). Perfeksionis yang dimaksud adalah menetapkan standar yang terlalu tinggi, misalnya enggan menyerahkan Bab I kepada pembimbing sebelum merasa tulisannya sempurna. Kedua studi itu bersifat korelasional dan dilakukan di luar prodi bahasa Arab, sehingga belum membuktikan hubungan sebab akibat. Meski begitu, temuan ini mengingatkan bahwa rasa tidak mampu dan keinginan tampil sempurna sama-sama bisa menahan langkah.
Hambatan yang sering dijumpai
Hambatan menulis tugas akhir jarang datang sendirian. Biasanya masalah pengetahuan, perasaan, dan keadaan sekitar saling bertumpuk. Studi kasus terhadap sepuluh mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi mencatat kesulitan pada pengetahuan dasar penulisan skripsi, faktor psikologis, ekonomi, sosial budaya, proses konsultasi dengan pembimbing, dan teknologi (Aprillia dkk., 2023). Studi naratif terhadap tiga mahasiswa lain menambahkan kemampuan mengatur diri dalam belajar, penguasaan bahasa, kemampuan menulis, bimbingan dosen, dan pengelolaan emosi sebagai faktor penundaan, serta mencatat dampaknya pada kesejahteraan mahasiswa (Muslim dkk., 2025). Jumlah partisipan kedua studi ini kecil, jadi hasilnya lebih tepat dibaca sebagai gambaran pengalaman daripada angka yang berlaku umum. Bagi mahasiswa PBA, daftar ini tetap terasa dekat, apalagi bila tugas akhir ditulis atau memakai sumber berbahasa Arab.
Strategi agar selesai tepat waktu
Niat yang baik perlu diubah menjadi rencana yang konkret. Gollwitzer dan Sheeran (2006) meninjau 94 pengujian tentang niat pelaksanaan atau implementation intentions, yaitu rencana berbentuk jika dan maka yang menetapkan kapan, di mana, dan bagaimana sebuah tujuan dikerjakan. Hasilnya, rencana semacam ini berpengaruh sedang hingga besar terhadap tercapainya tujuan, dengan ukuran efek d sebesar 0,65. Ukuran efek adalah angka yang menunjukkan seberapa besar perbedaan yang ditimbulkan sebuah perlakuan, dan nilai 0,65 tergolong cukup berarti. Dalam praktik, rencana itu bisa berbunyi, jika selesai salat Subuh pada hari Senin sampai Jumat, maka saya menulis 300 kata di meja belajar sebelum membuka media sosial. Rencana yang sekecil dan sejelas ini lebih mudah dijalankan daripada tekad umum untuk segera menyelesaikan skripsi.
Pecahlah pekerjaan besar menjadi bagian kecil yang bisa diselesaikan dalam satu kali duduk. Tugas yang terasa tidak menyenangkan dan tenggat yang masih jauh termasuk prediktor penundaan menurut Steel (2007), sehingga memperkecil ukuran tugas dan membuat tenggat antara menjadi cara yang masuk akal untuk melawannya. Contohnya, target pekan ini cukup menyusun kerangka kajian teori dan mengumpulkan sepuluh artikel jurnal yang relevan, lalu target pekan depan menulis dua subbab pertama. Tenggat antara yang disepakati bersama pembimbing akan membuat jarak menuju tujuan terasa dekat.
Jadikan bimbingan sebagai jadwal tetap, bukan peristiwa langka. Bimbingan dosen muncul sebagai salah satu faktor dalam penelitian tentang hambatan dan penundaan skripsi (Aprillia dkk., 2023; Muslim dkk., 2025). Mahasiswa dapat membantu kelancaran bimbingan dengan datang membawa draf, daftar pertanyaan yang jelas, dan catatan revisi sebelumnya. Kebiasaan menyerahkan draf yang belum sempurna juga menjadi penangkal perfeksionisme, karena masukan pembimbing lebih berguna pada draf yang masih bisa diubah daripada pada naskah yang sudah dianggap final.
Tepat cara: jujur, sesuai pedoman, dan bijak memakai AI
Kecepatan tidak ada artinya bila kejujuran dikorbankan. Kejujuran ilmiah berarti data dikumpulkan sungguhan, setiap kutipan dan parafrase menyebut sumbernya, dan setiap rujukan benar-benar ada serta pernah dibaca. Contohnya, menyalin daftar pustaka dari skripsi kakak tingkat tanpa membuka sumber aslinya berisiko memasukkan rujukan yang keliru atau bahkan tidak pernah ada. Pedoman tugas akhir fakultas juga perlu diikuti sejak awal, mulai dari sistematika sampai gaya sitasi. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa pengetahuan dasar tentang penulisan skripsi termasuk hambatan yang dilaporkan mahasiswa (Aprillia dkk., 2023), sehingga membaca pedoman lebih awal dapat mencegah revisi menumpuk menjelang sidang.
Kecerdasan buatan generatif kini mudah diakses, dan penggunaannya perlu bijak. UNESCO melalui panduan yang disusun Miao dan Holmes (2023) mendorong pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pengendali dalam memvalidasi dan memakai AI generatif untuk pendidikan dan penelitian. Dalam konteks tugas akhir, AI dapat membantu misalnya menjelaskan istilah statistik yang belum dipahami atau memeriksa ejaan, tetapi gagasan, data, analisis, dan tanggung jawab atas isi tetap milik penulis. Keluaran AI juga perlu diperiksa ulang, terutama rujukan yang disebutkannya, karena tidak semua rujukan itu dapat dipastikan ada. Aturan penggunaan AI di setiap kampus bisa berbeda, sehingga mahasiswa sebaiknya menanyakannya kepada pembimbing sebelum memakainya.
Penutup
Ketepatan waktu dan ketepatan cara lahir dari kebiasaan kecil yang diulang, bukan dari semangat sesaat menjelang tenggat. Kajian yang dirujuk di atas mengindikasikan bahwa keyakinan akan kemampuan diri, rencana yang konkret, dan bimbingan yang teratur berkaitan dengan lancarnya penyelesaian tugas, walaupun sebagian besar bukti dari Indonesia masih berupa studi korelasional dan studi kasus kecil. Mulailah dari satu paragraf hari ini, karena tugas akhir yang selesai selalu berawal dari halaman pertama yang berani ditulis.