Aplikasi kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT kini mudah diakses mahasiswa. Dalam hitungan detik, aplikasi semacam ini bisa menerjemahkan teks, menjelaskan kaidah nahwu, bahkan menulis paragraf berbahasa Arab. Kemudahan itu membawa pertanyaan penting, yaitu apakah AI membuat kita makin mahir atau justru membuat kita bergantung. Tulisan ini merangkum temuan riset terbaru dan menawarkan cara memakai AI yang tetap menumbuhkan kemampuan berbahasa Arab mahasiswa sendiri.
Apa kata riset tentang AI dan belajar
Hasil riset tentang AI dalam pendidikan ternyata tidak seragam. Deng dkk. (2025) meninjau 69 studi eksperimen dan menemukan bahwa intervensi dengan ChatGPT secara umum meningkatkan prestasi akademik dan menurunkan beban usaha mental, tetapi mereka juga mengingatkan adanya keterbatasan metodologis, misalnya penilaian setelah intervensi yang belum tentu mengukur kemampuan mandiri. Peringatan itu terbukti penting dalam eksperimen lapangan Bastani dkk. (2025) terhadap hampir 1.000 siswa SMA yang belajar matematika. Siswa yang memakai antarmuka mirip ChatGPT biasa memperoleh nilai latihan 48 persen lebih baik, tetapi ketika akses AI dicabut saat ujian, nilai mereka 17 persen lebih rendah daripada siswa yang tidak pernah memakai AI. Sebaliknya, versi AI yang dirancang sebagai tutor dengan pembatasan tertentu sebagian besar menghindari dampak buruk tersebut. Pesannya jelas, yaitu yang menentukan bukan ada atau tidaknya AI, melainkan cara memakainya.

AI dan bahasa Arab: membantu, tetapi bisa keliru
Pengalaman mahasiswa PBA di Indonesia menunjukkan pola yang serupa. Fredlina dkk. (2025) menyurvei 152 mahasiswa semester tujuh PBA di tiga perguruan tinggi keagamaan di Malang yang telah memakai ChatGPT sedikitnya enam bulan. Sebagian besar responden merasa terbantu pada keterampilan reseptif, misalnya 75 persen untuk menyederhanakan bacaan, tetapi hanya 32,2 persen yang merasa terbantu untuk koreksi tulisan dan 42,7 persen untuk latihan berbicara. Hambatan yang paling banyak disebut adalah ketidaktepatan tata bahasa Arab oleh AI, yaitu 63,8 persen, disusul kebingungan tentang plagiarisme sebesar 60,6 persen. Data ini berupa persepsi mahasiswa, bukan uji kemampuan, tetapi cukup menjadi peringatan bahwa jawaban AI dalam bahasa Arab tidak boleh diterima mentah-mentah.
Prinsipnya: AI sebagai pelatih, bukan pengganti
Kemampuan berbahasa tumbuh dari usaha otak sendiri. Bila AI mengerjakan bagian yang seharusnya kita kerjakan, kita mendapat hasil yang rapi tetapi kehilangan latihannya. Karpicke dan Roediger (2008) menunjukkan bahwa usaha mengingat kembali tanpa melihat jawaban sangat memperkuat ingatan jangka panjang, sedangkan sekadar mempelajari ulang hampir tidak menambah daya ingat. Panduan UNESCO yang disusun Miao dan Holmes (2023) juga menekankan pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pengendali dalam memakai AI generatif untuk pendidikan. Contohnya, meminta AI menerjemahkan seluruh teks bacaan membuat tugas cepat selesai, sedangkan menerjemahkan sendiri lebih dulu lalu meminta AI menunjukkan bagian yang keliru membuat kita benar-benar belajar. Jadi, aturan sederhananya adalah coba dulu sendiri, baru minta bantuan.
Cara praktis memakai AI untuk belajar bahasa Arab
Jadikan AI pembuat kuis
Mintalah AI menyusun kuis dari daftar mufradat yang sedang dipelajari, lalu jawab tanpa melihat catatan. Cara ini mengubah AI dari pemberi jawaban menjadi pemberi soal, sehingga latihan mengingat kembali yang dalam eksperimen memperkuat ingatan jangka panjang (Karpicke & Roediger, 2008) tetap kita kerjakan sendiri. Contoh perintahnya, buatkan sepuluh soal pilihan ganda tentang arti kata-kata berikut, jangan tampilkan kunci jawaban sebelum saya selesai menjawab. Setelah selesai, cocokkan jawaban dengan kamus atau buku ajar, jangan sekadar dengan kunci dari AI.
Minta umpan balik, bukan tulisan jadi
Tulislah paragraf berbahasa Arab sendiri lebih dulu, lalu mintalah AI menandai kesalahan dan menjelaskan alasannya tanpa menulis ulang seluruh paragraf. Dengan begitu, gagasan dan susunan kalimat tetap milik kita. Karena AI dapat keliru dalam tata bahasa Arab (Fredlina dkk., 2025), setiap koreksi yang meragukan sebaiknya dicek ke kitab nahwu, kamus, atau ditanyakan kepada dosen. Kebiasaan memeriksa ulang ini sekaligus melatih kepekaan kita terhadap kaidah.
Pakai untuk menjelaskan, lalu verifikasi
AI cukup berguna untuk menjelaskan ulang kaidah yang belum dipahami dengan bahasa yang lebih sederhana. Misalnya, kita dapat meminta penjelasan perbedaan fungsi إِنَّ dan أَنَّ disertai contoh kalimat. Penjelasan itu sebaiknya diperlakukan sebagai titik awal, lalu dicocokkan dengan buku nahwu yang dipakai di kelas. Bila keduanya berbeda, yang dijadikan pegangan adalah sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hormati aturan dosen dan kampus
Tugas yang dinilai adalah bukti kemampuan kita, bukan kemampuan AI. Menyerahkan tulisan buatan AI sebagai karya sendiri sama saja dengan menghilangkan kesempatan untuk dinilai dan dibimbing secara jujur. Kebingungan soal ini nyata, karena 60,6 persen mahasiswa PBA dalam survei Fredlina dkk. (2025) mengaku bingung tentang batas plagiarisme saat memakai ChatGPT. Aturan penggunaan AI juga bisa berbeda antardosen dan antarmata kuliah, sehingga tanyakan lebih dulu bagian mana yang boleh dibantu AI dan bagaimana cara mencantumkan penggunaannya. Keterbukaan seperti ini jauh lebih aman daripada menebak-nebak.
Penutup
AI dapat menjadi teman belajar bahasa Arab yang sabar dan selalu tersedia, asalkan kita tetap memegang kendali. Riset yang dirujuk di atas mengindikasikan bahwa AI yang dipakai sebagai jalan pintas berisiko melemahkan kemampuan mandiri, sedangkan AI yang dipakai sebagai pelatih dan pemberi umpan balik dapat mendukung belajar. Sebagian besar bukti itu berasal dari mata pelajaran lain atau dari survei persepsi, sehingga penelitian eksperimen tentang AI dalam pembelajaran bahasa Arab di Indonesia masih sangat dibutuhkan.