Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab mempelajari empat keterampilan berbahasa atau maharah, yaitu istima' atau menyimak, kalam atau berbicara, qira'ah atau membaca, dan kitabah atau menulis (Lubis dkk., 2022). Tulisan ini membahas dua yang pertama, karena keduanya sama-sama berlangsung saat itu juga dan di Prodi PBA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon diajarkan berdampingan.
Dua keterampilan yang tidak memberi waktu untuk berpikir lama
Istima' dan kalam punya satu ciri yang membuatnya menantang, yaitu keduanya tidak bisa ditunda. Saat membaca, kita boleh mengulang satu kalimat sampai paham, sedangkan saat menyimak dosen atau penutur asli, ujaran terus mengalir dan lawan bicara menunggu jawaban. Vandergrift (2004) menyebut menyimak sebagai keterampilan yang prosesnya paling tidak kasatmata sehingga termasuk yang tersulit dipelajari, dan penelitian di Prodi PBA IAIN Langsa serta IAIN Ternate mencatat mahasiswa kesulitan berbicara karena kosakata terbatas, sulit merangkai kalimat, dan kurang percaya diri (Lubis dkk., 2022; Sugirma dkk., 2024). Bagian berikut menguraikan cara kerja kedua keterampilan itu, hambatan yang lazim muncul, lalu langkah kelas yang dapat dicoba.
Mengapa istima' dan kalam sebaiknya berjalan berdampingan
Menyimak dan berbicara tidak berjalan di dua jalur yang terpisah, sebab orang yang sedang berbicara juga menyimak dirinya sendiri. Ketika mengucapkan sebuah kalimat, kita ikut mendengar ucapan itu dan bisa sadar bahwa ada kata yang keliru. Model produksi ujaran Levelt (1989), sebagaimana diringkas Meyer dkk. (2019), menghubungkan sistem berbicara dengan sistem pemahaman melalui dua jalur umpan balik. Jalur pertama memeriksa rencana ucapan sebelum keluar, sedangkan jalur kedua memeriksa ujaran yang sudah terdengar. Sebagai gambaran, seorang mahasiswa akan sulit membetulkan lafal qaf yang tertukar dengan kaf, misalnya pada قَلْب dan كَلْب, selama telinganya belum mampu membedakan kedua bunyi itu. Dengan dasar ini, memadukan istima' dan kalam dalam satu rangkaian kegiatan punya alasan teoretis yang jelas.
Apa yang terjadi ketika kita menyimak
Menyimak adalah kerja aktif menyusun makna, bukan sekadar menerima bunyi. Dalam prosesnya ada dua arah yang bekerja bersamaan. Arah pertama disebut pemrosesan bawah-atas atau bottom-up, yakni penyimak berangkat dari unsur terkecil berupa bunyi, kata, lalu kalimat. Contohnya, mahasiswa mendengar ذَهَبَ الطَّالِبُ إِلَى الْمَكْتَبَةِ dan mengenali kata demi kata sampai utuh. Arah kedua disebut pemrosesan atas-bawah atau top-down, yakni penyimak memakai pengetahuan dan konteks yang sudah ia miliki. Contohnya, begitu mendengar kata طَبِيب dan دَوَاء, mahasiswa menduga percakapan berlangsung di klinik walaupun belum menangkap semua kata. Vandergrift (2004) menjadikan kedua arah ini dasar dua pendekatan pengajaran, yaitu latihan pengenalan dan pemenggalan kata untuk sisi bawah-atas serta penumbuhan kesadaran metakognitif untuk sisi atas-bawah, lalu mengusulkan agar keduanya dipadukan. Kelas istima' yang hanya memutar rekaman lalu menanyakan isinya baru menguji hasil menyimak dan belum melatih prosesnya.

Kesadaran metakognitif yang disebut di atas maknanya sederhana, yaitu kesadaran dan kendali seseorang atas cara ia berpikir dan belajar. Dalam menyimak, metakognisi tampak ketika mahasiswa merencanakan apa yang akan didengar, memantau apakah dugaannya benar, menilai bagian yang gagal dipahami, lalu mencari jalan keluar. Contohnya, sebelum memutar berita singkat tentang cuaca, mahasiswa menulis lima kata Arab yang mungkin muncul, lalu mencocokkannya setelah menyimak. Vandergrift dan Tafaghodtari (2010) menguji pendekatan ini selama satu semester pada 106 pembelajar bahasa Prancis sebagai bahasa kedua. Kelompok yang dibimbing melalui proses prediksi, pemantauan, evaluasi, dan pemecahan masalah mengungguli kelompok kontrol pada tes pemahaman akhir, dan penyimak yang semula lemah memperoleh kenaikan lebih besar daripada rekannya yang lebih mahir. Kajian sistematis atas 31 publikasi terbitan 2012 sampai 2022 juga melaporkan pengaruh positif pengajaran metakognitif, walaupun hubungan antara kesadaran metakognitif dan skor menyimak hanya lemah sampai sedang (Bozorgian & Shamsi, 2023). Bukti ini mendukung pengajaran proses menyimak, walaupun besar manfaatnya tidak sama pada setiap pembelajar.
Hasil itu tidak selalu berulang. CEFR adalah kerangka acuan kecakapan bahasa dari Dewan Eropa yang membagi kemampuan ke dalam enam jenjang, dan jenjang A2 tergolong pengguna dasar yang baru memahami ungkapan sehari-hari seperti urusan belanja (DAAD, t.t.). Milliner dan Dimoski (2021) tidak menemukan bukti kuat bahwa kemampuan menyimak mahasiswa Jepang setingkat A2 meningkat setelah pelatihan serupa, sehingga mereka menduga ada ambang kemampuan minimal sebelum strategi ini memberi manfaat. Perlu dicatat pula bahwa semua studi tersebut melibatkan pembelajar bahasa Prancis dan Inggris, bukan bahasa Arab. Bagi kelas PBA, latihan strategi sebaiknya dibarengi penguatan kosakata dan pengenalan bunyi, terutama pada semester awal, dan hasilnya pada pembelajar bahasa Arab masih perlu diuji.
Apa yang terjadi ketika kita berbicara
Berbicara melewati beberapa tahap yang biasanya tidak kita sadari karena berlangsung sangat cepat. Levelt (1989), sebagaimana diringkas Meyer dkk. (2019), membagi produksi ujaran ke dalam tiga komponen utama. Konseptualisasi menyiapkan pesan praverbal, yaitu gagasan yang ingin disampaikan sebelum berwujud kata. Formulasi mengubah gagasan itu menjadi rencana ucapan dengan memanggil kata beserta sifat tata bahasanya dari leksikon mental, yakni kamus yang tersimpan di kepala penutur. Artikulasi lalu mengeluarkan rencana tersebut menjadi bunyi. Bayangkan mahasiswa yang ingin berkata bahwa ia terlambat karena hujan. Gagasannya sudah jelas, tetapi ia tersendat saat mencari kata المَطَر dan memilih bentuk fi'il yang tepat, artinya hambatannya ada di tahap formulasi. Memetakan di tahap mana mahasiswa tersendat membantu dosen memilih latihan yang sesuai, misalnya latihan kosakata untuk formulasi dan latihan lafal untuk artikulasi.
Hambatan yang sering dijumpai mahasiswa
Penelitian di beberapa prodi PBA mencatat pola hambatan yang mirip, baik dari sisi kebahasaan maupun nonkebahasaan. Hambatan kebahasaan menyangkut kosakata, kaidah, dan lafal, sedangkan hambatan nonkebahasaan menyangkut rasa percaya diri, latar pendidikan, dan lingkungan berbahasa. Mahasiswa PBA di IAIN Langsa dan IAIN Ternate melaporkan kosakata dasar yang terbatas, kesulitan menyusun kalimat, kesulitan menangkap ucapan lawan bicara, serta rasa kurang percaya diri, dan di Langsa sebagian mahasiswa ternyata tidak memilih PBA sebagai pilihan pertama (Lubis dkk., 2022; Sugirma dkk., 2024). Pada sisi menyimak, mahasiswa IAIN Palangka Raya yang belajar melalui film Arab di YouTube terhambat oleh ucapan penutur yang cepat, percakapan yang kurang jelas, dan kosakata yang belum dikenal (Hamidah & Marsiah, 2020). Temuan bahwa mahasiswa sulit menangkap ucapan lawan bicara memperlihatkan bahwa sebagian masalah kalam sebenarnya berakar pada istima'.
Bahasa Arab juga membawa tantangan yang jarang dimiliki bahasa lain, yaitu diglosia. Diglosia adalah keadaan ketika satu masyarakat memakai dua ragam bahasa untuk fungsi yang berbeda. Ferguson (1959) menjadikan bahasa Arab salah satu dari empat contoh utama gejala ini, dengan bahasa Arab klasik sebagai ragam tinggi yang dipelajari lewat pendidikan formal dan dipakai dalam tulisan serta acara resmi, sedangkan dialek seperti Arab Mesir menjadi ragam rendah untuk percakapan sehari-hari. Contohnya, mahasiswa yang cukup lancar menyimak berita berbahasa fusha bisa kebingungan menonton film Mesir karena lafal dan kosakatanya berbeda. Pilihan ragam untuk kelas istima' dan kalam karena itu perlu diambil secara sadar dan disampaikan kepada mahasiswa sejak pertemuan pertama.
Empat langkah kelas yang dapat dicoba
1. Mulai dari dugaan
Sebelum rekaman diputar, ajak mahasiswa menduga isi dan kosakata yang mungkin muncul. Langkah ini mengaktifkan pemrosesan atas-bawah dan memberi mahasiswa sesuatu untuk diperiksa ketika menyimak. Perencanaan dan prediksi merupakan proses pertama dalam pendekatan metakognitif yang diuji Vandergrift dan Tafaghodtari (2010). Untuk tema belanja di pasar, misalnya, mahasiswa bisa menuliskan سِعْر, رَخِيص, dan غَالٍ sebelum mendengar dialog penjual dan pembeli. Dugaan yang tertulis itu menjadi bahan diskusi pada langkah berikutnya.
2. Simak berulang dengan tujuan berbeda
Putar rekaman yang sama lebih dari sekali, tetapi dengan tugas yang berganti. Putaran pertama cukup untuk menangkap gagasan umum, putaran kedua untuk memeriksa dugaan bersama pasangan, dan putaran ketiga untuk menuliskan satu atau dua kalimat kunci secara utuh. Pola ini melatih pemantauan dan pemecahan masalah sekaligus memberi ruang bagi latihan pengenalan kata yang disarankan Vandergrift (2004). Pengulangan dengan tujuan jelas lebih bermanfaat daripada sekadar memutar ulang tanpa arahan.
3. Jadikan simakan sebagai bahan bicara
Setelah menyimak, minta mahasiswa menceritakan ulang isi rekaman kepada pasangannya atau memerankan situasi serupa dengan memakai kosakata dari rekaman tadi. Dengan cara ini kata yang baru didengar langsung dipakai pada tahap formulasi, sehingga jarak antara memahami dan mengucapkan menjadi lebih pendek. Lubis dkk. (2022) menyarankan hal yang sejalan, yaitu melatih berbicara dengan contoh dari teks dan dari situasi yang lazim dihadapi mahasiswa. Contohnya, setelah menyimak dialog di apotek, mahasiswa memerankan percakapan membeli obat flu dengan kalimat mereka sendiri.
4. Tutup dengan refleksi dan perluas lingkungannya
Akhiri pertemuan dengan pertanyaan singkat tentang bagian yang paling sulit ditangkap dan cara mengatasinya pada simakan berikutnya. Refleksi seperti ini melatih evaluasi, yaitu proses metakognitif yang juga diuji Vandergrift dan Tafaghodtari (2010). Di luar kelas, Lubis dkk. (2022) merekomendasikan pembentukan bi'ah lughawiyyah atau lingkungan berbahasa Arab, misalnya hari wajib berbahasa Arab, serta pemanfaatan media seperti YouTube untuk memperkenalkan kosakata dan pola kalimat baru. Latihan di kelas yang singkat akan lebih bermakna bila mahasiswa punya tempat untuk memakainya setiap hari.
Penutup
Istima' dan kalam saling menopang, sebab yang tidak tertangkap telinga sulit diucapkan dengan benar dan yang tidak pernah diucapkan mudah terlupa. Kajian yang dirujuk di atas mengindikasikan bahwa melatih proses menyimak, di samping menguji hasilnya, bermanfaat bagi banyak pembelajar, dengan catatan bahwa bukti dari kelas bahasa Arab di Indonesia masih terbatas. Celah inilah yang terbuka bagi mahasiswa dan dosen PBA untuk diteliti melalui skripsi maupun penelitian tindakan kelas.