Keadaan ini mungkin akrab bagi pembelajar bahasa Arab. Kosakata sudah dihafal, kaidah nahwu sudah dipelajari, tetapi lidah terasa kaku saat dosen meminta berbicara di depan kelas. Tulisan ini membahas mengapa kemampuan dan kemauan berbicara tidak selalu berjalan bersama, lalu menawarkan langkah yang dapat dicoba mahasiswa dan dosen untuk menumbuhkan motivasi belajar maharah kalam.
Mau berbicara adalah soal kesiapan, bukan hanya kemampuan
Orang yang mampu berbicara belum tentu mau berbicara. Para peneliti menyebut kemauan ini willingness to communicate, yang dapat diterjemahkan sebagai kesediaan berkomunikasi. MacIntyre dkk. (1998) mendefinisikannya sebagai kesiapan untuk masuk ke dalam percakapan pada waktu tertentu, dengan orang tertentu, menggunakan bahasa kedua. Kesiapan ini tidak tetap. Seorang mahasiswa bisa lancar bercakap dengan teman sekamar, tetapi diam ketika berhadapan dengan dosen tamu dari Mesir. Menurut model yang sama, kesediaan berkomunikasi banyak ditentukan oleh rasa percaya diri, yaitu gabungan dari penilaian diri bahwa ia mampu berkomunikasi dan rendahnya rasa cemas. Yang menentukan adalah kemampuan yang dirasakan, bukan semata kemampuan yang sebenarnya, sehingga mahasiswa yang meremehkan dirinya bisa memilih diam walaupun sebenarnya sanggup. MacIntyre dkk. (1998) bahkan menilai bahwa menumbuhkan kesediaan berkomunikasi layak menjadi tujuan utama pembelajaran bahasa kedua. Maka, kelas kalam yang hanya menambah pengetahuan tanpa menumbuhkan keberanian memakainya baru menyelesaikan separuh pekerjaan.

Cemas itu wajar, tetapi perlu dikenali
Rasa cemas saat berbicara bahasa asing adalah gejala yang sudah lama diteliti. Horwitz dkk. (1986) memandang kecemasan belajar bahasa asing sebagai gejala yang khas, karena belajar bahasa menuntut orang mengambil risiko dan dapat mengusik citra dirinya. Mereka mengaitkannya dengan tiga kecemasan yang berdekatan, yaitu takut berkomunikasi dengan orang lain, cemas menghadapi ujian, dan takut dinilai negatif. Dari pengamatan di sebuah pusat layanan belajar, kesulitan berbicara di kelas merupakan keluhan yang paling sering disampaikan mahasiswa yang cemas, dan dalam survei mereka terhadap 75 mahasiswa, 49 persen mengaku panik ketika harus berbicara tanpa persiapan. Data itu berasal dari satu kampus di Amerika Serikat, sehingga besarnya angka tidak bisa langsung dipindahkan ke kelas kita. Polanya tetap berguna, karena menunjukkan bahwa diamnya mahasiswa belum tentu tanda malas.
Gejala serupa juga dicatat di prodi bahasa Arab di Indonesia. Mahasiswa PBA di IAIN Ternate dan IAIN Langsa menyebut rasa kurang percaya diri sebagai salah satu hambatan berbicara, di samping kosakata yang terbatas dan kaidah yang belum kuat (Lubis dkk., 2022; Sugirma dkk., 2024). Di Langsa, sebagian mahasiswa juga mengaku tidak menjadikan PBA sebagai pilihan pertama saat mendaftar (Lubis dkk., 2022). Dua temuan ini menyentuh dua sisi motivasi, yaitu keyakinan akan kemampuan diri dan alasan untuk belajar.
Tiga kebutuhan yang menghidupkan motivasi
Motivasi yang bertahan lama biasanya tumbuh dari dalam, bukan semata dari nilai atau tuntutan. Teori penentuan diri yang dikembangkan Ryan dan Deci (2000) menyebut tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu kompetensi, otonomi, dan keterhubungan. Bila ketiganya terpenuhi, motivasi diri dan kesejahteraan cenderung meningkat, sedangkan bila terhambat, keduanya cenderung menurun. Dalam kelas kalam, kompetensi berarti mahasiswa merasakan kemajuan, misalnya berhasil memesan makanan dalam bahasa Arab tanpa melihat catatan. Otonomi berarti ia punya pilihan, misalnya memilih sendiri topik presentasi yang ia sukai. Keterhubungan berarti ia merasa diterima oleh teman dan dosen, sehingga kesalahan tidak berujung pada ejekan. Ketiga kebutuhan ini bisa menjadi alat periksa sederhana bagi dosen saat merancang kegiatan berbicara.
Membayangkan diri yang fasih berbahasa Arab
Salah satu sumber motivasi yang banyak diteliti adalah gambaran diri di masa depan. Dörnyei (2009) merumuskan sistem diri bahasa kedua yang terdiri atas tiga komponen. Diri ideal bahasa kedua adalah sosok yang ingin dicapai pembelajar, diri yang seharusnya adalah sosok yang diharapkan orang lain darinya, dan pengalaman belajar mencakup semua faktor di lingkungan belajar (Butler, 2016). Contoh diri ideal adalah mahasiswa yang membayangkan dirinya memandu jamaah umrah atau menjadi penerjemah di forum internasional. Meta-analisis Al-Hoorie (2018) atas 32 laporan penelitian dengan 32.078 pembelajar menemukan bahwa diri ideal berkorelasi cukup kuat dengan niat untuk berusaha (r = 0,61), tetapi hubungannya dengan prestasi yang diukur secara objektif lemah (r = 0,20). Artinya, membayangkan diri yang fasih memang dapat menyalakan niat, tetapi niat itu baru berbuah bila diterjemahkan menjadi latihan yang nyata dan teratur.
Bagi pembelajar di Indonesia, alasan belajar bahasa Arab sering terkait dengan agama. Edidarmo dan Fudhaili (2023) mengajukan konsep motivasi spiritual dalam pembelajaran bahasa Arab, karena di Indonesia bahasa ini berperan ganda sebagai alat komunikasi dan pintu menuju ilmu-ilmu keislaman. Kajian mereka bersifat konseptual, sehingga masih perlu diuji di kelas. Gagasan ini tetap layak dipertimbangkan, sebab diri ideal seorang mahasiswa PBA bisa saja berupa dai yang mampu berceramah dalam bahasa Arab atau guru yang mengajak muridnya mencintai bahasa Al-Qur'an.
Langkah yang dapat dicoba
Untuk mahasiswa
Mulailah dengan menuliskan gambaran diri berbahasa Arab yang konkret, lalu pecah menjadi target kecil. Gambaran yang terlalu jauh mudah membuat kecil hati bila tidak ada pijakan antara. Temuan Al-Hoorie (2018) menunjukkan bahwa niat saja tidak cukup, sedangkan kebutuhan akan kompetensi dalam teori Ryan dan Deci (2000) terpenuhi ketika kemajuan dapat dirasakan. Contohnya, target minggu ini adalah memperkenalkan diri selama satu menit tanpa catatan, dan target bulan depan adalah bercerita tentang kampung halaman selama tiga menit. Target yang tercapai akan menjadi bukti bagi diri sendiri bahwa kemajuan itu nyata.
Carilah kawan berbicara dan jangan menunggu sempurna untuk memulai. Lima mahasiswa PBA di Bekasi yang diteliti Nur'afifah dkk. (2024) menjaga motivasi dengan sering menonton video berbahasa Arab dan mencoba berbicara dengan teman maupun dosen, walaupun baru mampu satu kata. Sampel lima orang tentu terlalu kecil untuk digeneralisasi. Langkah mereka tetap sejalan dengan kebutuhan akan keterhubungan, karena berbicara bersama teman yang sama-sama belajar terasa lebih aman daripada tampil sendirian.
Berlatihlah secara bertahap, dari yang disiapkan menuju yang spontan. Horwitz dkk. (1986) mencatat bahwa banyak mahasiswa merasa nyaman dengan latihan pola dan pidato yang sudah disiapkan, tetapi membeku saat bermain peran yang menuntut spontanitas. Karena itu, mulailah dengan pidato pendek yang ditulis lebih dulu, lalu naik ke tanya jawab sederhana, dan akhirnya ke percakapan bebas.
Untuk dosen
Kurangi ancaman, bukan tantangan. Takut dinilai negatif termasuk sumber kecemasan, dan menurut Horwitz dkk. (1986) dosen sebagai satu-satunya penutur yang fasih di kelas mudah dirasakan sebagai penilai yang terus-menerus. Koreksi tetap perlu, tetapi waktunya dapat diatur. Kesalahan yang tidak mengganggu makna bisa dicatat dulu lalu dibahas bersama di akhir kegiatan tanpa menyebut nama. Kegiatan berpasangan sebelum tampil di depan kelas juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kalimatnya lebih dulu. Langkah seperti ini menjaga standar sekaligus menjaga keberanian.
Berikan pilihan dan tunjukkan kemajuan. Pilihan topik, pasangan, atau bentuk tugas memenuhi kebutuhan akan otonomi, sedangkan catatan kemajuan yang terlihat memenuhi kebutuhan akan kompetensi (Ryan & Deci, 2000). Rekaman suara mahasiswa di awal dan akhir semester, misalnya, bisa diputar ulang agar mereka mendengar sendiri perubahannya. Kemajuan yang didengar sendiri dapat menjadi bukti yang lebih terasa bagi mahasiswa daripada angka di atas kertas.
Penutup
Motivasi belajar maharah kalam bukan bakat yang dimiliki sebagian orang saja. Kajian yang dirujuk di atas mengindikasikan bahwa motivasi berkaitan dengan rasa mampu, rasa aman, pilihan, dan gambaran diri yang ingin dicapai, dan semua itu dapat dibangun bersama oleh mahasiswa dan dosen. Sebagian besar bukti tersebut berasal dari pembelajar bahasa Inggris dan bahasa lain di luar Indonesia, sehingga penelitian tentang motivasi berbicara bahasa Arab di kampus kita sendiri masih terbuka lebar untuk dikerjakan.